Sabtu, 01 Desember 2012

SENI RUPA TERAPAN



                                                                                                                                                      I.            PENDAHULUAN
Seni rupa terapan adalah hasil karya seni rupa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan mempunyai fungsi atau manfaat. Fungsi karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi estetis dan fungsi praktis. Fungsi estetis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tentang rasa keindahan. Misalnya lukisan, patung,dan benda hias. Fungsi praktis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia akan benda pakai. Misalnya vas bunga, kursi ukir, dan bingkai foto.
Selain itu kaya seni rupa terapan juga dibedakan menjadi 3, yaitu hasil karya ukiran, hasil karya patung, dan hasil karya batik.
  • Menurut hasil karya ukiran, contoh benda-bendanya adalah ukiran kayu dari Jepara dan ukiran kayu dari Bali.
  • Menurut hasil karya patung, contoh benda-bendanya adalah patung kayu dari suku Asmat, patung batu Pangeran Diponegoro, dan Patung kayu dari Bali.
  • Menurut hasil karya batik, contoh benda-bendanya adalah baju, sprei, kain, gorden, dll




                                                                                                                                                      II.            PEMBAHASAN

Seni Terapan untuk provinsi Sulawesi Selatan yaitu :
1.      Tongkonan

Tongkonan adalah rumah adat tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon ("duduk"). Tongkonan diletakkan didepan rumah tinggal terdiri dari dua pasang yaitu
satu untuk Lumbung Padi dengan kaki enam, yang satu untuk tempat pertemuan dengan bahan khusus dibuatnya dan motif khas ukiran Toraja.
Kelebihan dan kelemahan Tongkonan yaitu tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Filosofinya adalah semua orang boleh dan dipersilahkan masuk dalam lingkaran Tongkonan. Walaupun beda agama, kasta, dan suku.
Tapi jangan coba-coba untuk merubah arah tongkonan itu menjadi arah Barat Timur. karena memang Tongkonan harus menghadap Utara dan Selatan ada sebuah prinsip ketegasan disini.
Bolehlah anda masuk, bolehlah anda datang, bolehlah anda cari makan di Tanatoraja. Tapi jangan coba-coba merubah arah menghadap Tongkonan. Inilah yang mengesankan bahwa Tongkonan mengandung filosofi tentang sebuah prinsip suatu keyakinan maka arahnya adalah Tana Matari Allo.

2.      Badik

Bagi masyarakat bugis makassar, atau masyarakat sulawesi selatan, khususnya laki-laki "bura"ne", dulunya sangat-lah mengindentikkan diri mereka dengan badik, dimana badik itu dijadikan sebagai lambang kejantanan "lelaki sejati". Biasanya jika laki-laki bugis-makassar, merasa dipermalukan, maka hanya ada satu kata yang mereka jadikan sebagai simbol, yaitu siri"napacce, yang terkadang harus-lah mereka selesaikan dengan jantan, yang ujung-ujungnya berakhir di ujung badik.
Namun terkikis oleh waktu dan berubahnya peradaban ini, kini hanya sebagian kecil saja laki-laki bugis-makassar, yang mempertahankan atau mengidentikan dirinya dengan badik, hal ini juga dikarenakan aturan undang-undang yang melarang masyarakat membawa badik.

*      


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar